MA’RIFAT YANG MANA???

Bagi sebagian orang mungkin sangat familiar dengan kata-kata ini (Ma’rifat) namun bagi sebagian lainnya ada juga yang risih, nyinyir, mencela, menyesatkan, dan banyak lagi kata-kata yang lainnya. Namun dalam postingan kali ini sangat patut dipertanyakan Ma’rifat yang mana??? yang akan kita bahas, jangan-jangan tidak sesuai dengan Syari’at.

Jika melihat judul diatas (Ma’rifat yang mana???) berarti ada beberapa ma’rifat dong???

Jawabannya Iya. Yang menjadi alasan, karena secara harfiah Ma’rifat itu mempunyai makna (kenal) atau mengetahui dengan sesungguh-sungguh. Namum masih bersifat umum karena apapun dan siapapun yang kita ketahui dan kenali, itu bisa juga disebut dengan ma’ifat.

Namun yang akan kita bahas disini Ma’rifat yang masuk kedalam kategori Wajib bagi setiap orang yang baligh dan berakal sehat ( Mukallaf ). Ma’rifat yang mana yang wajib bagi mukallaf..??

Jawaban pertanyaan Ma’rifat yang mana???

 

Yaitu Ma’rifat yang sesuai dengan Firman Alloh :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاإلٰه إلاالله 

Artinya : “Ketahuilah.!! Bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Alloh ( QS : Muhammad : 19). Read More

PENGERTIAN AHLUS SUNNAH WAL-JAMA’AH

Pengertian ahlus sunnah wal jama'ah

Pengertian ahlus sunnah wal Jama’ah, escincau.com. Alhamdulillaah dalam kesempatan kali ini kita masih bisa dipertemukan kembali, dan pada pertemuan kali ini kita akan melanjutkan materi, yang sempat tertunda. Dan materi kita saat ini adalah Pengertian Ahlus sunnah Wal jama’ah.Berhubung dalam kondisi saat ini sangat banyak yang mengaku bahwa Kami golongan ahlus sunnah, golongan kami yang bakal selamat dan golongan yang lain adalah sesat, maka alangkah layak untuk kita pelajari, kita fahami apa sih pengertian dari ahlus sunnah wal jama’ah itu?

Penting untuk dibaca : PEMABAWA AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Dalam hal apa yang termasuk kedalam ahlus sunnah wal-Jama’ah tersebut??

 

Pengertian Ahlus sunnah wal Jama’ah

 

Berhubung kita diberi kewajiban untuk memegang teguh keyakinan Ahlus sunnah wal jama’ah, jadi secara tidak langsung kita itu dituntut untuk mengenali pula apa itu pengertian ahlus sunnah wal Jama’ah.

Baca juga :

Siapakah Ahlus sunnah Wal Jama’ah???

Untuk itu sekarang mari kita telaah pengertian ahlus sunnah wal jama’ah itu, karena hanya golongan inilah yang dijamin selamat dari api Neraka yang abadi.

Dengan mengutip sebuah Dawuhan Kangjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alayhi wa sallam sebagai berikut :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ مِنْ بَعْدِيْ فَسَيَرٰى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمُهْدِيًِيْنَ الرًَاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ (رواه: أبو داود)

FA INNAHU MAN YA’ISY MINKUM MIN BA’DII FASAYAROO IKHTILAAFAN KATSIIRON, FA’ALAYKUM BISUNNATII WA SUNNATIL-KHULAFAA_IL-MUHDIYYIINAR-ROOSYIDIINA TAMASSAKUU BIHAA WA ‘ADLDLUU ‘ALAYHAA BIN-NAWAAJII ( H.R : Abu Dawud).

Artinya : ”  Barang siapa diantara kalian yang hidup setelah kematianku, maka kalian akan menemukan banyak perselisihan. Dengan demikian, Genggam eratlah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan Hidayah. Pegangan yang kuat dan gigitlah dengan gigi geraham. (Hadits riwayat : Abu Dawud).

Dan Dawuhan Kangjeng Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam yang diterima oleh Abu Hurayroh sebagai berikut :

تَفَرَّقَتِْ الْيَهُوْدُ عَلٰى إِحْدٰى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَالِكَ، وَتَفَرَّقَتْ اُمَّتِيْ عَلٰى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. (رواه : الترميذي)

TAFARROQOTIL-YAHUUDU ‘ALAA IHDAA WA SAB’IINA FIRQOTAN WAN-NASHOORO MITSLA DZAALIKA, WA TAFARROQOT UMMATII ‘ALAA TSALAATSIN WA SAB’IINA FIRQOTAN.

Artinya : ” Terpecahlah Umat Yahudi menjadi Tujuh puluh Satu (71) kelompok, dan Umat Nashoropun demikian. Dan sementara Umatku akan terpecah menjadi Tujuh puluh Tiga kelompok. (Hadits Riwayat : At-Turmudzi).

Dan juga seperti Dawuhan Kangjeng Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam sebagai berikut :

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلٰى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَتَفَرَّقَتْ اُمَّتِيْ عَلٰى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوْا : وَمَا هِيَ يَارَسُوْلَ اللّٰهْ..؟ قَالَ مَاأنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ (رواه: الترميذي).

INNA BANII ISROOIILA TAFARROQOT ‘ALAA TSINTAYNI WA SAB’IINA MILLATAN, WA TAFARROQOT UMATII ‘ALAA TSALAATSIN WA SAB’IINA MILLATAN, KULLUHUM FIN-NAARI ILLA MILLATAN WAAHIDATAN. QOOLUU : WA MAA HIYA YAA ROSUULALLOOH..?? QOOLA : MAA ANA ‘ALAYHI WA ASH_HAABII.

Artinya : ” Sesungguhnya Bani Isroil itu terpecah menjadi 72 kelompok(Millah), sementara Umat Kamipun demikian (terpecah) menjadi 73 kelompok (Millah) dan semuanua itu masuk Neraka terkecuali Satu kelompok. Maka para Shahabat bertanya : ” Yaa Rasulalloh, siapakah yang satu kelompok itu “?? Rasululloh pun Menjawab : ” Yaitu orang -orang yang memegang teguh Sunnahku.”

Dan dalam redaksi lain ( Imam ath-Thabroni )disebutkan begini :

مَنْ هُمْ يَارَسُوْلَ اللًٰه..؟ قَالَ : أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

MAN HUM YAA ROSUULALLOOH..? QOOLA : AHLUS-SUNNATI WAL-JAMAA’ATI

Artinya : ” Siapakah Mereka itu Ya Rasulalloh ??? Rosulalloh menjawab : Mereka adalah Ahlus sunnah wal Jama’ah “.

Baca juga :

Kitab- kitab rujukannya 

 

pengertian ahlus sunnah wal jama'ah
Dahulukan Niyat sebelum amal

Jadi untuk kesimpulan yang difahami dari Hadits diatas itu, bahwa ada Firqoh (aliran-aliran atau kelompok kelompok) setelah Rosululloh Meninggalkan dunia ini, semuanya CELAKA, terkecuali hanya ada satu Firqoh yang selamat yaitu Ahlus sunnah wal Jama’ah.

Yang mana pengertian Ahlus sunnah wal Jama’ah itu adalah sekelompok orang yang keyakinannya menganut pada keyakinan Kangjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alayhi wasallam, dan keyakinannya para Sahabat yaitu yang dipegang teguh oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ariy dan Abu Manshur al-Maturidiy.

Semua keterangannya itu tertulis didalam Kitab Ittihaafu Saadatil Muttaqiin Syarah kitab Ihya ‘Ulumuddin Juz 2 halaman 6 yang berbunyi :

إِذَا اُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ، فَالْمُرَادُ بِهٖ اَلْاَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِدِيَّةُ

IDZAA UTHLIQO AHLUS-SUNNATI FAL-MUROODU BIHII AL-‘ASYAA_’IROTU WAL-MAATURIDIYYATU.

Artinya : ” Tatkala menyebut Ahlus sunnah, maka sudah barang tentu yang dimaksud oleh ucapan tersebut adalah Faham fan Fatwanya Imam al-Asy’sriy dan Imam al-Maturidiy.

Dan golongan Ahlus sunnah wal Jama’ah itu akan kekal adanya sampai Hari Qiyamat. Yang menjadi acuan akan kekalnya Ahlus sunnah wal Jama’ah itu menurut pada ungkapan Kangjeng Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam berikut ini :

لَاتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ اُمًَتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلٰى الْحَقِّ حَتّٰى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللّٰهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ. (رواه البخاري(

LAA TAZAALU THOOIFATUN MIN UMMATII DHOOHIRIINA ‘ALAAL-HAQQI HATTA YA_TIYAHUM AMRULLOOHI WA HUM DHOOHIRUUN.

Artinya : ” Akan selalu ada dalam kemenangan atau kebenaran satu kelompok umatKu, sampai Hari Qiyamat tiba. dan mereka selalu tetap didalam kebenaran itu”.

 

– Firqoh yang tidak termasuk Ahlus sunnah Wal Jama’ah

 

Adapun firqah yang Tujuh puluh Dua (72) itu yakni yang keluar dari keyaqinan Ahlus sunnah wal Jama’ah itu diringkas (dikelompokkan) lagi menjadi Tujuh kelompok, yang Tujuh kelompok itu adalah :

  • 1. Syi’ah

Kelompok Kaum Syi’ah ini adalah suatu Kaum yang sangat berlebihan dalam memuja kepada Sayyidina ‘Ali Karromallohu Wajhah

Baca Juga )

sehingga mereka mengesampingkan bahkan tidak mengakui akan ke khalifahan sahabat yang Tiga ( Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnu Khattab, dan Utsman bin ‘Affan Rhodliyallohu ‘Anhum ).

Sementara kalau Ahlus sunnah Wal Jama’ah itu, mengakui kekhalifahan Sahabat yang Empat setelah Rasululloh wafat dari Mulai Abu Bakar sampai pada Sayyidina ‘Ali secara bergantian dalam menjabatnya.

Berhubung diatas telah terrangkum dari 72 kelompok menjadi 7, maka pada kelompok Kaum Syi’ah mereka terpecah menjadi menjadi (22) aliran kepercayaan. Untuk rinciannya silahkan bisa dilihat disini :

Macam – macam aliran Syi’ah

  • Kaum Khawarij

Jika Kaum Syiah diatas sangat berlebihan dalam memuja (menyanjung) Sayyidina ‘Ali Karromallohu Wajhah, nah kalau Kaum yang ini ( Khawarij ) itu kebalikan dari Syi’ah yaitu sangat membenci pada Sayyidina ‘Ali. Bahkan sebagan dari mereka ada pula yang menganggap Kufur padanya.

Kaum ini mempunyai keyakinan bahwa jika orang yang melakukan dosa besar maka dia jadi Kufur. Bahkan kala itu saking bencinya mereka pada Sayyidina ‘Ali, sehingga Gugurlah Beliau ditangan salahsatu dari Kaum Khawarij yaitu : ‘Abdur Rahman bin Mulzam disaat Sayyidina ‘Ali hendak melaksanakan Shalat Subuh. Bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan tahun 40.H dan dikebumikan di Najf Baghdad.

Kelompok Kaum Khawarij ini terpecah pula menjadi (20) untuk perincian singkatnya,

Bisa dilihat disini :

Rincian Sekte Khawarij

3. Kaum Mu’tazilah

Yang disebut dengan Kaum Mu’tazilah itu ialah suatu Kaum / Sekte yang meyakini bahwa :

  • Alloh itu tidak mempunyai Sifat,
  • Manusia membuat pekerjaan sendiri,
  • Segala amalnya tidak ada campur tangan Alloh,
  • Mukmin yang di Sorga tidak akan melihat Alloh,
  • Serta meyakini orang yang melakukan dosa besar itu akan ditempatkan diantara Sorga dan Neraka,
  • Dan juga mereka sangat meyakini bahwa Mi’rajnya Nabi Muhammad itu hanya Ruhnya saja.

Nah untuk Kaum atau Sekte Mu’tazilah ini, mereka terpecah menjadi ( 20 ) aliran.

Baca juga Versi lengkapnya :

Sekte Mu’tazilah

4. Kaum Murji’ah

Perbedaan sekte Kaum Murji’ah dengan sekte – sekte yang lainnya adalah : Sekte ini sangat meyakini bahwa perbuatan maksiat itu tidaklah apa-apa, tidak menimbulkan kemadlorotan asalkan sudah Iman kepada Alloh.

Seperti halnya orang-orang kafir dikala berbuat kebaikan, tidak akan ada manfaat apa-apa. Nah Kaum Murji’ah ini terpecah menjadi ( 5 ) aliran.

Uraian sekte Mur’jiah

5. Kaum Najjaariyyah

Kaum Najjariyah ini adalah suatu Kaum yang meyakini bahwa amal perbuatan manusia itu dibuat oleh Alloh sama dengan keyakinannya Ahlus sunnah wal Jama’ah, tapi mereka meyakini juga bahwa Alloh itu tidak mempunyai Sifat Qodim dan juga kata mereka bahwa Kalamulloh itu Hadits (dibaca : Baru) dalam hal ini, mereka itu sama dengan pendapatnya Sekte Mu’tazilah. Nah untuk sekte Najjariyyah ini, mereka terpecah juga menjadi (3) aliran kepercayaan.

 

6. Kaum Jabbariyyah

Dalam pengertian Ahlus sunnah wal Jama’ah ini ada yang disebut dengan aliran atau Firqah Jabbariyyah, sedikit ulasan untuk kaum yang disebut dengan jabbariyah itu adalah : “Satu aliran yang meyakini bahwa manusia itu Majbur (Terpaksa/tidak mempunyai ikhtiyar sama sekali) jadi jika menurut mereka itu mau ibadah atau tidak, itu terserah Tuhan saja tanpa mau berusaha. Firqah ini tidak mempunyai pecahan seperti golongan-golongan yang tersebut diatas.

 

7. Kaum Musyabbihah

Yang terakhir dari pecahan-pecahan umat Kangjeng Nabi Muhammad yang tidak termasuk kedalam golongan yang selamat itu adalah Kaum Musyabbihah.

nah yang diswebut dengan Kaum Musyabbihah ini adalah suatu Kaum yang memiliki Keyakinan bahwa Alloh itu sama seperti Makhluk yaitu seperti :

  • Memeiliki Jisim
  • Suka duduk
  • Suka turun
  • Suka naik
  • Punya tangan
  • Punya kaki
  • Punya Muka dan lain sebagainya

Nah Sekte ini juga biasa disebut dengan Julukan Mujassimah karena menisbatkan bahwa Alloh itu punya Jisim. Dan kaum inipun mempunyai hanya mempunyai 1 golongan saja.

Gambarannya seperti ini :

Pengertian Ahlus sunnah wal Jama'ah
Gambaran

Jadi jika ditambah satu Firqah (golongan) maka seluruhnya berjumlah 73, sesuai dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Turmudzi.

Adapun Kaum Qadariyyah, itu termasuk kedalam golongan/ kelompok Mu’tazilah.

Kaum Bahaiyyah dan Ahmadiyyah Qadliyan, itu termasuk kedalam golongan Syi’ah

Kaum Ibnu Taymiyyah, itu termasuk kedalam golongan Musyabbihah.

Kaum Wahhabi, itu termasuk kedalam jajaran pelaksana dari Kaumnya Ibnu Taymiyyah.

 

Kesimpulannya

Dalam pengertian Ahlus sunnah wal Jama’ah itu kita bisa menyimpulkan bahwa yang disebut dengan Ahlus sunnah wal Jama’ah itu adalah mereka yang meyakini atau mempunyai keyakinan yang sama dengan keyakinannya pengantut Madzhab Imam al-‘Asy’ariy dan Imam al-Maturidiy.

Sedangkan kalau dalam masalah Furu’iyyah atau Fiqih, menganut pada salahsatu Madzhab yang Empat, Madzhab Imam yang empat itu adalah :

  1. Madzhab Imam Abu Hanifah yang lahir pada 80.H di Kuffah, dan wafatnya pada tahun 150.H serta dikebumikan di Baghdad. Usianya ±70 tahun.
  2. Madzhab Imam Maliki Beliau lahir di Madinah pada tahun 93.H dan wafatnya pada tahun 179.H serta dikebumikan di Baqi’ Madinah. Usianya ± 85 tahun.
  3. Madzhab Imam Asy-Syafi’i, Beliau lahir pada tahun 150.H di Ghazzah/Syam, dan wafatnya pada tahun 204.H dikebumikan di Mishri, usianya 45 tahun.
  4. Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal, Beliau lahir pada tahun 164.H di Baghdad dan wafat pada tahun 241.H serta dikebumikan di Baghdad, Usianya 77 tahun.

Dengan demikian, Bagi kita tidaklah diperbolehkan keluar dari salahsatu Madzhab tersebut karena madzhab-Madzhab yang lainnya itu sudah tidak termasuk (tercatat) kedalam kategori madzhab yang Sah, sebab sudah berhenti disana dan tidak ada penerusnya.

Maka Wajib hukumnya bagi yang bukan Ahli Ijtihad, untuk Taqlid (menganut/mengikuti) salahsatu Madzhab yang Empat diatas dalam masalah Furu’iyyah, dikarenakan kita tidak diberi kemampuan untuk menggali sendiri dari tiap-tiap masalah Furu’iyyah.

Adapun jika dalam Ilmu Tasawwuf, kita diwajibkan menganut pada tingkah lakunya Imam Abul Qasim al-Junaydi, yang mana Beliau itu memakai Syari’at, Thariqat, serta Haqiqat. Karena mengacu pada Dawuhan Kangjeng Nabi Muhammad Sholallohu ‘alayhi wasallam :

فَعَلَيْكُم بِسُنَّتِيْ (اَيْ قَوْلًا وَفِعْلًا وَتَقْرِيْرًا) وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ ( اَيْ فِي الْعَقَائِدِ )الدِّيْنِيَّةِ وَالْاَعْمَالِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْاَخْلَاقِ الْقَلْبِيَّةِ

FA’ALAYKUM BISUNNATII (AY QOWLAN WA FI’LAN WA TAQRIIRON) WA SUNNATIL-KHULAFAA_IR-ROOSYIDIINA (AY FIL-‘AQOOIDID-DIINIYYATI WAL-A’MAALIL-BADAANIYYATI WAL-AKHLAAQIL-QOLBIYYATI.

Artinya :” Diwajibkan kepadamu untuk memegang teguh Sunnatku ( dalam ucapan,pekerjaan, meninggalkan) dan sunnatnya Khulafaur Rasyidiin (dalam keyakinan agama, dalam amal ibadah lahir dan bathin).

Sampai disini ringkasan tentang pengertian Ahlus sunnah wal Jama’ah yang kita bahas secara garis besarnya saja, adapaun untuk lebih jelas dan gamblang silahkan dikonfirmasikan pada Ulama setempat, atau berselacar mencari info menggunakan jasanya mbah Google

Nb. Mohon saran dan kritiknya, Terima kasih..

[contact-form][contact-field label=”Nama” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Surel” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Situs web” type=”url” /][contact-field label=”Pesan” type=”textarea” /][/contact-form]

Walloohu a’lam

Read More

KAJIAN HUKUM SYARA’ {KHITHABul WADL’Iyyi}

Selamat Jam segini Sahabat Fillaah, mari kita berselancar lagi untuk KAJIAN HUKUM SYARA’ {KHITHABul WADL’Iyyi} karena masih belum beres juga bahasannya.

Dalam bahasan sebelumnya kita telah mengetahui garis besarnya dari KHITHAB yang terbagi menjadi dua Postingan dikarenakan keadaan yang kurang mendukung.

Mudah – mudahan saat ini kita bisa menyelesaikannya dalam satu judul tema saja. Supaya tidak tercecer kaya waktu lalu.

 

KAJIAN HUKUM SYARA’ {KHITHABul WADL’Iyyi}

Read More

MENGENALI DASAR-DASAR HUKUM SYARA’

Alhamdulillah wa syukru ‘alaa ni’amillah, wash-sholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaah pada kesempatan kali ini kita masih diberi kesempatan untuk melanjutkan sebuah bahasan dasar hukum yang nomer 3 yaitu MENGENALI DASAR-DASAR HUKUM SYARA’.

Jika pada kesempatan yang lalu kita telah menyelesaikan sebuah materi yang sedikit menyibak tentang hukum akal dan hukum adat dan yang akan kita uraikan sekarang adalah hukuma syara’MENGENALI DASAR-DASAR HUKUM SYARA'

 

Namun jika saudara semua berkenan untuk membacanya ;

MENGENALI DASAR-DASAR HUKUM SYARA’

Read More

4 POIN RAHASIA DIBALIK HUBUNGAN HUKUM ADAT DAN AQIDAH

Alhamdulillaah saat ini kita bisa dipertemukan kembali setelah mengulas secara ringkas bahasan Rahasia dibalik hukum adat , dan sekarang yang akan kita urai adalah yang masih ada kaitan erat dengan yang sebelumnya yaitu : 4 poin rahasia dibalik hubungan antara hukum adat dan aqidah.

Didalam kehidupan ini semuanya tak lepas dari suatu ikatan, entah itu dalam urusan agama, negara, hukum dan lain sebagainya. Disini juga kita akan sedikit menguak tentang 4 poin rahasia dibalik hukun adat dan aqidah, karena sangat penting untuk kita ketahui supaya bisa membedakan mana hukum adat, dan mana aqidah.

Sebab dalam hal ini sangatlah banyak orang-orang yang tidak tepat dalam menempatkan suatu hukum, sehingga salah persepsi dikemudian hari. Pokok utama dalam kesalahan tersebut ialah salah penempatan.

Kesalahan penempatan suatu hukum itu kedepannya bisa menggiring kita pada kekufuran lho, seperti menempatkan :

Hukum adat yang dijadikan Hukum akal 

Disaat salah penempatan tersebut bisa menyebabkan pada kekufuran dan yang paling minimnya bisa menjerumuskan kepada golongan orang Fasiq.

Yang menjadi sebab dalam hukum adat itu seperti Golok bisa melukai, makanan bisa mengenyangkan, obat bisa menyembuhkan, api bisa menggosongkan dan lain sebagainya. Ungkapan yang demikian itu, jika dalam masalah ini terbagi menjadi 4 bagian.

1. Talazum ‘Aqliy (4 POIN RAHASIA DIBALIK HUBUNGAN HUKUM ADAT DAN AQIDAH)

Read More

RAHASIA DIBALIK HUKUM ADAT

RAHASIA DIBALIK HUKUM ADAT, Dalam kehidupan sehari – hari kita tak lepas dari apa yang namanya sebuah hukum, karena aman dan damainya suatu tatanan hidup karena semuanya dinaungi oleh sebuah landasan HUKUM, termasuk hukum adat. 

Terus hukum apa saja yang akan dikemukakan disini…. ????

RAHASIA DIBALIK HUKUM ADAT
Tasbih

Fainsya Alloh yang akan kita telaah disini dan saat ini adalah sebuah hukum yang ada kaitan dengan ilmu ushuluddin dan setelah dalam bab sebelumnya yang telah kita ulas sealakadarnya saja. Tapi walaupun demikian semoga saja memberi manfa’at bagi kita semua. Aamiin…

Nah dalam pertemuan kita kali ini yang akan dituangkan escincau.com adalah ulassan tentang HUKUM ADAT . Dalam uraian hukum adat ini kita akan menemukan berbagai hal yang erat kaitannya dengan ilmu ushuluddin dan aqidah kita, diantaranya :

-Pengertian Hukum adat

-Pembagian Hukum adat

Pengertian hukum Adat

Mari sekarang kita melangkah lagi pada sebuah uraian yang akan membuka sedikit uraian tentang hukum adat. Adapun sebuah pengertian dari hukum adat itu adalah sebagai berikut ;

وَالْحُكْمُ الْعَادِيُّ هُوَ اِثْبَاتُ اَمْرٍ لِاَمْرٍ اٰخَرَ اَوْ نَفْيُهُ عَنْهُ بِوَاسِطَةِ التَّكْرِيْرِ اَيْ وَاسِطَةِ الْقِراٰنِ بَيٍنَهُمَا

Artinya : ” Yang disebut dengan hukum adat itu adalah Penetapan suatu perkara pada perkara yang lainnya, atau tidak menetapkannya dengan perantaraan yang bolak-balik yakni berbarengan diantara beberapa kali kejadian”.

Nanun hukum adat itu sangat Sah ketidak tepatannya dan sangat pantas untuk salah, kita ambil contoh gini : ” Adanya kenyang setelah makan dan lain-lainnya “.

Nah contoh diatas tadi itu sah jika menurut pada hukum adat, karena bukan hanya satu kali-dua kali kejadiannya selalu begitu. Tapi Sah juga seandainya tidak demikianpun (contoh diatas), sebab tidak apa-apa pula jika sehabis makan tidak ada kenyang pun, bahkan malah lumpuh sekalipun. Atau bahkan tidak menutup kemungkinan jika perut kenyang tapi tidak makan dan minum sekalipun.

Yang demikian itu kategori hukum menurut adat atau kebiasaan yang telah kita temui saat ini. Sekarang tinggal kita menambah langkah pada Bab selanjutnya, yaitu : Bagian-bagian dari hukum adat.

 

Bagian – bagian dari Hukum adat

 

Setelah kita sedikit mengetahui akan gambaran atau pengertian dari Hukum adat, maka untuk poin selanjutnya kita akan mencoba untuk mengetahui Bagian-bagiannya.

Dan Untuk bagaian-bagian dari hukum adat itu terdapat 4 ( Empat) bagian, diantaranya :

1. Robthu wujuudin bi wujuudin

Read More

HUKUM AKAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA Bag. 2

Bismillaah Alhamdulillaah wash_sholaatu wassalaamu ‘alaa ni’aamillaah, Sahabat Es Cincau yang di Rahmati Alloh setelah sekian lama catatan kita tertunda, padahal dalam masalah hukum akal ini belum selesai semua, dan sekarang mari kita melanjutkan lagi pada bahasan HUKUM AKAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA Bag. 2

Tapi walau demikian, Es cincau akan selalu berusaha dan menyempatkan diri untuk melanjutkan catatan demi catatan itu. Supaya bisa menambah wawasan dan keimanan kita pada Yang Maha Kuasa.

Dalam catatan waktu itu :

HUKUM AKAL Bag. 1

Yang belum tercatat adalah Pembagian Mustahil ‘aqli. Nah saat ini mari kita simak tentang sebuah catatan yang akan sedikit mengungkap tentang Pembagian Mustahil ‘aqli.

 

Pembagian Mustahil akli (menurut akal)

 

Dalam pembagian Mustahil akli pun sama seperti dalam catatan Sebelumnya Yaitu terbagi menjadi dua bagian, dan yang dua bagian itu adalah :

  1. Mustahil ‘aqli dloruri

  2. Mustahil ‘aqli Nadhori

Adapun arti dari Mustahil ‘Aqli Dloruri adalah setiap perkara yang tidak bisa dimengerti oleh akal akan keberadaannya, serta mengertinya itu spontanitas. Dalam artian tidak membutuhkan adanya suatu pemikiran.

Contohnya seperti : ” Jirim tidak mempunyai tempat atau Jirim tidak diam maupun tidak bergerak, atau juga diam dan geraknya bersamaan pada satu waktu dan pada satu Jirim”.

Nah yang demikian itu atau contoh diatas itu merupakan sebuah contoh kemustahilan yang secara spontan bisa dimengerti oleh akal kita.

HUKUM AKAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA Bag. 2
Escincau.com

Adapun untuk poin selanjutnya Mustahil ‘aqli Nadhori adalah kebalikan dari poin di atas tadi yaitu : Setiap perkara yang tidak bisa dimengerti oleh akal keberadaannya dan juga dimengertinya pun tidak sepontanitas, tapi memerlukan pemikiran dan dalil terlebih dulu.

Contohnya seperti ucapan : Mustahil Alloh Baru atau Ada permulaan-Nya, Mustahil Alloh Rusak dan banyak lagi contoh- contoh yang lainnya.

Nah adanya contoh yang demikian itu setelah adanya pemikiran dan Dalil terlebih dulu, tidak bisa langsung disimpulkan dan dimengerti. Adapun penjelasannya, insya Alloh dalam pertemuan yang akan datang akan diperinci satu persatu dalam uraian Sifat – sifat Alloh Ta’ala.

Untuk uraian selanjutnya, mari kita jelajahi dan melangkah pada uraian Jaiz ‘aqli.

 

3. Catatan Jaiz ‘Aqli

 

Untuk selanjutnya yang termasuk kedalam hukum akal itu adalah Jaiz ‘Aqli dan untuk pengertian dari Jaiz ‘aqli ialah sebagai berikut : 

وَالْجَائِزُ عَقْلِيُّ مَايَصِحُ فِى الْعَقْلِ وُجُوْدُهُ وَعَدَمُهُ 

Artinya : “Yang dinamakan Jaiz menurut akal itu adalah jikalau suatu perkara sah akan keberadaan dan ketiadaannya”

Yakni akal bisa mencerna (mengerti) akan keberadaan dan ketiadaannya bergantian, bukan ada dan tiada secara berbarengan.

Jadi yang dinamakan Jaiz menurut akal itu saat ada, akal membenarkan dan saat tidak ada pun akal tetap membenarkan pula dengan syarat ada dan tiadanya bergantian.

Biar gampang untuk dicerna, dalam catatan ini, mari kita simak contoh berikut : “Ada suatu benda bergerak atau diam bergantian (bukan bergerak dan diam berbarengan) nah yang demikian itu dinamakan dengan Jaiz ‘aqli yaitu Sah – sah saja menurut akal.

Selanjutnya seperti dalam bab -bab yang telah kita lewati bersama, dalam ulasan wajib ‘aqli, mustahil ‘aqli yang terbagi menjadi dua bagian, maka dalam uraian Jaiz ‘aqli pun demikian, yaitu terbagi menjadi dua bagian.

Pembagian Jaiz ‘Aqli

 

Dan dalam bagian – bagian tersebutpun hampir sama juga yaitu :

  1. Jaiz ‘aqli Dloruri
  2. Jaiz ‘aqli Nadhori

Sekarang mari kita nambahi sedikit pengetahuan kita dengan mengulas apa yang disebut dengan Jaiz ‘aqli Dloruri.

Yang disebut dengan Jaiz ‘aqli Dloruri adalah suatu perkara yang Sah keberadaannya dan ketiadaannya secara langsung (spontanitas), Tak memerlukan sebuah pemikiran bahkan dalil -dalil.

Untuk contohnya yaitu sama seperti contoh diatas tadi (Jirim bergerak atau diam bergantian , atau juga Ki Zaid punya anak ).

Untuk poin selanjutnya adalah Jaiz ‘Aqli Nadhori adalah : ” Suatu perkara yang bisa dimengerti akan keberadaan dan ketiadaannya itu setelah melewati sebuah pemikiran dan juga menyertakan sebuah dalil”. Singkat kata, tidak bisa dimengerti secara spontanitas.

Untuk contoh dalam Jaiz ‘aqli Nadhori adalah : ” Menurut akal, sah – sah saja Alloh memberi ganjaran pada orang Kafir dan Menyiksa orang yang Tho’at serta tidak pernah melakukan Dosa.

Nah contoh yang demikian itu tidak bisa secara langsung dimengerti oleh akal, terkecuali harus mengetahui terlebih dahulu akan dalil dari Sifat Wahdaniyyatnya Alloh Ta’ala, sehingga sampai benar – benar tau bahwa seluruh Alam ini semua milik Alloh Ta’ala, ciptaan Alloh Ta’ala.

Yakni jika selain Alloh itu, tidak bisa memberi jejak (berbekas) sama sekali. Jadi kelazimannya, dengan adanya Akal kita bisa tau, ngerti akan sebuah dalil – dalil Sifat Wahdaniyyat itu.

Setelah itu, sudah barang tentu kita bisa mengerti bahwa Kufur, Iman, Tho’at dan Maksiat itu sama saja jika menurut akal serta satu persatu bisa dijadikan tanda bagi yang lainnya.

Tanda apakah itu….?
  • Iman tandanya Selamat
  • Kufur tandanya Celaka

Atau sebaliknya juga bisa saja, dan sudah barang tentu bisa dimengerti oleh akal kita bahwa sesungguhnya Alloh itu Mustahil mempunyai sifat Dzalim, walaupun Dia yang menciptakan segalanya. Sebab yang disebut dengan dzalim itu adalah menjalankan sebuah perkara tapi bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan atau yang dilarang. karena tiada satupun yang merintah ataupun melarang kepada Alloh sebab Alloh itu adalah Ratunya Ratu dan Raja diRaja jadi sangat tidak mungkin kalau Alloh dzalim.

Atau juga yang menjadi sebab dzalim_Nya itu, menempatkan suatu perkara bukan pada tempatnya ( pada hak orang lain ) bukan pada tempat yang semestinya. Sementara semua makhluk itu hanya Alloh yang memilikinya, hanya Alloh yang menciptakannya. Jadi sangatlah mutahil adanya Dzalim bagi alloh Ta’ala.

Yang harus jadi catatan :

Bahwa yang dapat dimengerti oleh akal itu adalah sah -sah saja (wenang) adanya ganjaran atau siksaan kepada setiap mukmin atau pada setiap orang kafir. Adapun ganjaran itu sendiri diperuntukkan (dikhususkan) bagi Mukmin Tho’at, sementara siksa api neraka itu diperuntukkan (dikhususkan) bagi orang – orang kafir dan orang durhaka.

Nah dalam paraghraf diatas itu, bukan sesuatu yang ditetapkan oleh akal tapi itu semata-mata Karunia atau Anugrah Alloh ta’ala dan keadilan-Nya. Yaitu yang ditetapkan oleh Syara’ sesuai dengan janji-Nya dan ancaman-Nya.

Alloh memilih untuk menetapkan sebuah Ganjaran (kenikmatan) bagi orang-orang Mukmin yang tho’atdengan sifat Fadlol-Nya dengan suatu anugrah. dan juga Alloh menetapkan pedihnya siksa neraka yang diperuntukkan buat orang-orang Kafir dan orang-orang durhaka dan gemar akan maksiat. dengan sifat keadilannya.

Nah yang demikian itu (semua yang tertulis diatas), itu disebut dengan Jaiz ‘aqli nadhori sebab tidak bisa dimengerti secara sepontanitas untuk keberadannya dan ketiadaannya itu setelah diadakan sebuah pemikiran dan memerlukan beberapa dalil yang berkaitan dengan hal itu.

Baca juga :

Versi Sundanya 

Untuk selanjutnya atau pertemuan yang akan datang, kita tinggal menyimpulkan keseluruhan dari hukum akal mulai dari wajib ‘aqli, mustahil ‘aqli dan jaiz ‘aqli. an untuk pertemuan kali ini saya cukupkan sampai disini dulu.

Walloohu a’lam……..

HUKUM AKAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA bag.1

Hukum akal

HUKUM AKAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA bag.1, Alhamdulillaah kita masih bisa dipertemuan kembali oleh Alloh subhaanahu wa ta’alaa, masih dikaruniai nikmat sehat dan sempat, masih diberi anugrah yang tak ternilai harganya yang mana nikmat ini tiada satupun makhluk didunia ini yang memilikinya terkecuali Manusia, nikmat apakah itu..? Jawabannya adalah Akal sehat, serta adanya hukum akal.

Baca juga : Versi Bahasa Sundanya

Karena akal sehat lah yang akan menunjang nilai dan derajat pada diri kita, dengan demikian mari kita manfaatkan kesehatan akal kita sebagai ungkapan rasa syukur pada Yang Maha Agung. Salah satu upaya untuk memaksimalkannya adalah dengan cara mengetahui suatu Hukum yang berkaitan dengan Akal atau disebut juga denga HUKUM AKAL.
Adapun yang akan kita gali saat ini adalah tentang :

  • Pengertian Hukum akal
  • Bagian – bagian dari hukum akal

Sekarang mari kita melangkah dengan materi pertama yang akan kita ulas adalah Pengertian hukum akal.

Pengertian hukum akal

Untuk pengertian hukum akal adalah sebagai berikut :

وَالْحُكْمُ الْعَقْلِيُّ هُوَ اِثْبَاتُ اَمْرٍ لِأَمْرٍ اَوْ نَفْيُهُ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُفٍ عَلٰي تِكْرَارٍ وَلاَ وَضْعِ وَاضِعٍ 

Artinya : Pengertian hukum akal adalah menetapkan suatu perkara, kepada perkara yang lainnya. Atau tidak menetapkannya, serta tidak menunggu atau didahului adanya beberapa kejadian dan tidak menunggu suatu pengaturan dari yang mengaturnya.

Nah didalam hukum akal itu keberadaannya beda dengan hukum Syara’ dan hukum adat. Sebab kalau hukum syara’ itu menunggu pada aturan yang mengaturnya.

Dan juga sangat beda dengan hukum Adat sebab kalau hukum adat itu identik dengan menunggu akan adanya beberapa kejadian terlebih dahulu, setelah ada kejadian berkali – kali barulah terbentuklah suatu hukum.

Dan kalau hukum akal itu tidak ditangguhkan pada apapun alias ada dengan sendirinya.

Oleh sebab itu, maka supaya fungsi akal sehat kita lebih maksimal, setelah ini kita akan mulai dengan ulasan bagian – bagian dari hukum akal. Karena ini sangat penting untuk kita ketahui dan merupakan bagian penting dalam menggali Ilmu tauhid atau Ushuluddin.

Bagian – bagian hukum akal

Adapun bagian – bagian yang sangat lekat dengan hukum akal adalah sebagai berikut :

  1. Wujub
  2. Istihaalah
  3. Jawaz

Maka dikala hukum diatas itu sudah selaras dengan Mahkum Bih, maka yang tadinya Wujub menjadi “Wajib” Istihalah menjadi “Mustahil” dan Jawaz menjadi Jaiz atau wenang. Seteh kita mengetahui apa saja yang menjadi bagian – bagian dari hukum akal yaitu yang tiga poin diatas tadi, maka sekarang kita tinggal mencari tau tentang pengertian – pengertian dari :

  • Wajib ‘Aqli,
  • Mustahil ‘Aqli,
  • dan Jaiz ‘Aqli.

Karena dari tiap – tiap bagian itu mempunyai pengertian Masing – masing, jadi intinya supaya kita nambah wawasan sebab kalau membawa Ilmu itu tidak ribet seperti membawa harta benda. Sekarang mari kita ulas apa pengertian Wajib ‘Aqli.

Pengertian Wajib ‘Aqli

Sebelum beranjak ke bahasan yang lain, Ulasan kita yang pertama adalah kita akan mencoba mengungkapakan sebuah Ta’rif atau pengertian dari Wajib ‘Aqli ( wajib menurut Akal), dan pengertiannya adalah sebagai berikut :

فَالْوَاجِبُ مَالَا يُتَصَوَّرُ فِى الْعَقْلِ عَدَمُهُ 

Artinya : Yang dinamakan wajib menurut akal itu ialah suatu perkara yang tidak dapat dimengerti oleh akal sehat ketiadaanya. (Jadi perkara itu bisanya dimengertinya harus selalu ada).
Dengan demikian, kita bisa mengartikan bahwa yang dinamakan wajib menurut akal itu ialah ;

Read More